Puncak Haji Sudah Dekat, Jamaah Dihimbau Hemat Tenaga

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mengimbau seluruh jemaah haji Indonesia untuk mulai menghemat tenaga menjelang fase puncak ibadah haji 1447 H/2026 M.

Jemaah diminta mengurangi aktivitas yang tidak mendesak dan lebih fokus menjaga kondisi fisik agar siap menjalani rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, mengatakan kesiapan fisik menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi puncak haji. Apalagi, suhu udara di Makkah dan Madinah saat ini berkisar antara 38 hingga 42 derajat Celsius.

“Puncak haji sudah semakin dekat. Jemaah perlu menghemat tenaga, cukup istirahat, makan tepat waktu, minum air putih yang cukup, dan tidak memaksakan diri beraktivitas di luar hotel, terutama pada siang hari,” ujar Maria di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Ia menegaskan bahwa ibadah haji bukan hanya membutuhkan kesiapan spiritual, tetapi juga stamina yang baik. Karena itu, jemaah diimbau memprioritaskan kesehatan agar dapat menjalani seluruh rangkaian ibadah dengan lancar.

Kemenhaj juga meminta jemaah lanjut usia (lansia), penyandang disabilitas, dan kelompok risiko tinggi lebih waspada terhadap kondisi tubuh mereka. Jika mengalami keluhan seperti sesak napas, pusing, nyeri dada, demam, atau kelelahan berat, jemaah diminta segera melapor kepada petugas kesehatan.

“Jangan menunggu kondisi memburuk. Kesehatan adalah bekal utama menuju puncak haji,” kata Maria.

Selain itu, Kemenhaj mengingatkan pentingnya kedisiplinan jemaah dalam mengikuti pengaturan pergerakan yang telah disiapkan pemerintah. Pengaturan tersebut dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk mengurangi kepadatan selama fase puncak haji berlangsung.

Jemaah juga diminta mematuhi arahan petugas terkait mobilitas dari hotel menuju Masjidil Haram, perjalanan dari Madinah ke Makkah, hingga persiapan menuju Armuzna.

Sementara itu, hingga hari ke-21 operasional haji, sebanyak 341 kloter dengan total 132.057 jemaah dan 1.361 petugas telah diberangkatkan ke Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, 240 kloter dengan 92.767 jemaah telah tiba di Makkah.

Untuk jemaah gelombang kedua yang masuk melalui Bandara Jeddah, Kemenhaj kembali mengingatkan agar mengenakan kain ihram sejak dari embarkasi di Indonesia karena akan mengambil miqat di perjalanan sebelum langsung menuju Makkah untuk melaksanakan umrah wajib.

Di sektor kesehatan, tercatat sebanyak 67 jemaah masih menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi. Kemenhaj juga mencatat total 24 jemaah Indonesia wafat di Tanah Suci hingga saat ini.

Maria turut mengapresiasi kerja keras para petugas haji yang terus memberikan layanan kepada jemaah di tengah padatnya operasional haji tahun ini.

“Semoga seluruh jemaah diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalankan ibadah hingga meraih haji yang mabrur,” tutupnya.

SUMBER : HIMPUHNEWS

Persiapan Layanan, Saudi Tambah Kapasitas Toilet di Mina Hingga 4 Kali Lipat, Waktu Antre Dipangkas 75 Persen

Persiapan layanan bagi jutaan jamaah pada musim haji 2026 terus dikebut. Salah satu peningkatan signifikan dilakukan di Mina, Arab Saudi, dengan rampungnya pembangunan 79 kompleks toilet dua lantai yang kini menyediakan total 7.838 toilet untuk jamaah.

Melansir kantor berita Saudi SPA, Peningkatan fasilitas sanitasi ini dilakukan di tengah tantangan keterbatasan lahan di Mina, kawasan yang setiap musim haji menjadi titik konsentrasi jutaan jamaah. Dengan pembangunan vertikal, kapasitas toilet kini diklaim melonjak hingga empat kali lipat dibanding sebelumnya, sekaligus memangkas waktu tunggu jamaah hingga 75 persen.

Kidana Development Company, badan pelaksana milik Royal Commission for Makkah City and Holy Sites, menyelesaikan fase kedua proyek pengembangan toilet menjelang pelaksanaan Haji 2026.

Tambah 18 Kompleks Toilet Baru

Pada fase kedua, pembangunan difokuskan di kawasan Al-Shuaibin, Mina bagian utara, dengan penambahan 18 kompleks toilet dua lantai yang menggantikan fasilitas lama satu lantai.

Tambahan ini melengkapi 61 kompleks serupa yang telah lebih dulu rampung pada musim haji tahun lalu, sehingga total keseluruhan mencapai 79 kompleks.

Kawasan Al-Shuaibin sendiri menjadi salah satu area akomodasi penting bagi jamaah, dengan keberadaan kompleks hunian dan tenda yang telah ditingkatkan di sisi timur maupun barat kawasan tersebut.

Strategi Bangun Vertikal karena Lahan Terbatas

Keterbatasan lahan di Mina menjadi alasan utama pengembangan dilakukan secara vertikal, bukan horizontal.

Dengan pendekatan ini, kapasitas fasilitas sanitasi bisa ditingkatkan tanpa perlu memperluas jejak fisik bangunan. Langkah tersebut juga ditujukan untuk mengurangi tekanan pada infrastruktur yang ada sekaligus menjaga kualitas layanan kebersihan selama musim haji.

Selain proyek toilet, pengelola juga melakukan sejumlah peningkatan infrastruktur pendukung lain di kawasan situs suci.

Beberapa di antaranya:

  • perluasan ruang hijau
  • peningkatan area istirahat di jalur pejalan kaki
  • pembenahan sistem air minum

Sementara di kawasan Jamarat, 400 unit kipas kabut (misting fan) berteknologi baru menggantikan sistem pendingin lama.

Fasilitas ini disebut mampu memberikan efek pendinginan bagi hingga 180.000 jamaah per jam saat menjalani ritual lempar jumrah.

Untuk meningkatkan kenyamanan mobilitas jamaah, lantai karet juga dipasang di area pejalan kaki dengan lalu lintas tinggi guna mengurangi kelelahan selama perjalanan antarlokasi ibadah.

SUMBER : HIMPUHNEWS

Suhu Makkah Tembus 43 Derajat, Pemerintah Beri Imbauan Ini Jemaah Haji

SUMBER : HIMPUHNEWS

Gelombang panas ekstrem mulai melanda Tanah Suci menjelang puncak ibadah haji. Suhu udara di Makkah diperkirakan mencapai 43 derajat Celsius, memicu kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan jemaah, khususnya saat beraktivitas di siang hari.

Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaff, mengingatkan jemaah agar menyesuaikan pola aktivitas harian guna menghindari paparan panas berlebih, terutama saat beribadah di area Masjidil Haram.

“Kami terus mengimbau jemaah untuk mengatur waktu keberangkatan ke Masjidil Haram dengan baik, mengatasi cuaca panas dengan alat pelindung diri,” ujarnya dalam konferensi pers, Minggu (3/5/2026).

Jemaah disarankan menghindari aktivitas fisik berat saat suhu berada di puncaknya. Waktu pagi atau malam hari dinilai lebih aman untuk menjalankan ibadah dibandingkan siang hari yang terik.

Risiko Dehidrasi dan Kelelahan Jadi Perhatian

Selain mengatur waktu aktivitas, jemaah juga diminta memperbanyak konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi. Kesadaran terhadap kondisi tubuh masing-masing menjadi hal penting, mengingat suhu tinggi dapat memicu kelelahan hingga gangguan kesehatan.

Jika mengalami keluhan, jemaah diminta segera melapor kepada petugas agar penanganan medis bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.

Pemerintah memastikan layanan kesehatan tetap disiagakan guna mendukung keselamatan jemaah selama beribadah. Imbauan juga terus disampaikan agar jemaah tetap tertib, mengikuti arahan petugas, serta menjaga kekhusyukan ibadah di tengah kondisi cuaca ekstrem.

“Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kemudahan, dan kebaikan kepada seluruh jemaah haji Indonesia, serta menjadikan ibadah hajinya mabrur,” pungkasnya.

Berdasarkan data AccuWeather, suhu siang di Makkah dalam 10 hari ke depan berada di kisaran 39 hingga 43 derajat Celsius. Pada Senin (4/5), suhu diperkirakan mencapai puncaknya di angka 43 derajat Celsius.

Saudi Pasang Payung Pendingin Berteknologi Tinggi di Area Wukuf Arafah untuk Haji 2026

Pemerintah Arab Saudi memasang payung pendingin berteknologi tinggi di kawasan Masjid Namira, Arafah, sebagai bagian dari upaya melindungi jemaah haji dari paparan panas ekstrem selama musim haji 2026. Teknologi baru ini disiapkan untuk mendukung kenyamanan jutaan jemaah saat menjalani puncak ibadah wukuf di Arafah.

Pemasangan fasilitas peneduh tersebut menjadi salah satu langkah terbaru Saudi dalam meningkatkan infrastruktur layanan haji, terutama menghadapi suhu udara yang kerap menembus lebih dari 40 derajat celsius saat musim haji berlangsung.

Payung pendingin berteknologi tinggi itu dipasang di sekitar Masjid Namira, salah satu titik utama pelaksanaan ibadah wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah.

Saat ritual berlangsung, jemaah haji biasanya menghabiskan waktu berjam-jam di area terbuka dengan paparan langsung sinar matahari dan suhu tinggi.

Kondisi cuaca ekstrem tersebut selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penyelenggaraan ibadah haji, khususnya bagi jemaah lansia dan kelompok rentan.

Teknologi Pendingin untuk Kurangi Paparan Panas

Pemerintah Saudi menyebut sistem payung modern ini dirancang untuk memberikan perlindungan maksimal terhadap sengatan matahari sekaligus membantu pengelolaan suhu di area sekitar Masjid Namira.

Teknologi tersebut menjadi bagian dari solusi manajemen temperatur yang kini terus dikembangkan Arab Saudi demi meningkatkan keselamatan dan kenyamanan jemaah haji.

Dengan adanya area teduh tambahan, jemaah diharapkan dapat menjalankan rangkaian ibadah wukuf dengan lebih aman di tengah suhu ekstrem gurun Arafah.

Arafah dikenal sebagai salah satu titik dengan suhu paling panas selama pelaksanaan ibadah haji. Pada musim haji, temperatur di kawasan tersebut kerap melampaui 40 derajat celsius atau sekitar 104 derajat fahrenheit.

Karena itu, berbagai inovasi infrastruktur pendingin terus dikembangkan pemerintah Saudi dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari penyediaan kabut air, jalur pedestrian berpendingin, hingga payung teknologi tinggi di area ibadah.

Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya Arab Saudi meningkatkan kualitas layanan dan perlindungan kesehatan bagi jemaah haji dari seluruh dunia pada musim haji 2026.

SUMBER BERITA & FOTO : HIMPUHNEWS

Madinah Siapkan Bus Shuttle Selama Ramadhan, Permudah Akses Jemaah ke Masjid Nabawi dan Quba

Otoritas Pengembangan Wilayah Madinah menyiapkan layanan bus shuttle khusus selama bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah untuk mengantisipasi lonjakan jamaah dan peziarah. Layanan transportasi massal ini ditujukan untuk mempermudah mobilitas warga dan pengunjung menuju kawasan Masjid Nabawi dan Masjid Quba.

Kebijakan tersebut diumumkan oleh Madinah Region Development Authority melalui proyek Bus Madinah. Layanan bus sirkuler akan dioperasikan dari sejumlah titik strategis guna mengurangi kepadatan lalu lintas di pusat kota selama Ramadhan.

Otoritas menyatakan, pengoperasian bus shuttle bertujuan meningkatkan kenyamanan jamaah, sekaligus menekan kemacetan di sekitar area ibadah yang biasanya memuncak saat Ramadhan.

Selain memberikan alternatif transportasi yang lebih terorganisasi, layanan ini juga dirancang untuk menjamin keamanan serta keselamatan penumpang selama perjalanan menuju dan dari Masjid Nabawi dan Masjid Quba.

Sejumlah Rute dan Stasiun Strategis Disiapkan

Dilansir dari Saudinews 50, Dalam rencana operasionalnya, bus shuttle akan melayani rute khusus yang menjangkau berbagai kawasan utama di Madinah. Sejumlah stasiun yang disiapkan antara lain:

  • Kawasan Perumahan King Fahd
  • Stasiun Kereta Cepat Haramain
  • Stasiun Syazhah
  • Distrik Al-Khalidiyah
  • Kawasan Sayyid Asy-Syuhada
  • Fakultas As-Salam
  • Stadion olahraga
  • Area taman kota

Selain itu, terdapat rute vital yang menghubungkan kawasan Al-‘Aaliyah dengan Masjid Quba. Jalur ini dirancang untuk memudahkan jamaah mengunjungi situs-situs religius penting di Madinah.

Solusi Transportasi di Musim Puncak Ramadhan

Layanan bus sirkuler dinilai krusial karena Madinah setiap Ramadhan menerima jutaan jamaah dari dalam dan luar Arab Saudi. Dengan memanfaatkan bus berkapasitas besar, jumlah kendaraan pribadi yang masuk ke pusat kota dapat ditekan.

Langkah ini tidak hanya mengurangi kemacetan dan waktu tempuh, tetapi juga membantu menekan emisi karbon serta meminimalkan kebutuhan lahan parkir di sekitar kawasan masjid.

Peluncuran bus shuttle Ramadhan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah Arab Saudi dalam meningkatkan layanan bagi jamaah, sejalan dengan agenda Saudi Vision 2030 dan Program Pelayanan Tamu Allah.

Otoritas Madinah menegaskan komitmennya menerapkan standar keselamatan dan kenyamanan tertinggi, termasuk pengaturan jadwal yang akurat untuk mengurangi waktu tunggu, sehingga jamaah dapat beribadah dengan lebih tenang selama bulan suci.

SUMBER : HIMPUHNEWS

Saudi Luncurkan Kampanye “Jai lil Umrah”, Fokus Tingkatkan Layanan dan Pengalaman Jamaah

Arab Saudi meluncurkan kampanye baru bertajuk “Jai lil Umrah” untuk meningkatkan kesadaran jamaah mengenai layanan, petunjuk, serta etika selama menjalankan ibadah umrah. Program ini digulirkan menjelang puncak musim umrah di bulan Ramadan.

Kampanye tersebut diluncurkan oleh sistem Haji dan Umrah Arab Saudi sebagai bagian dari upaya memperkaya pengalaman ibadah jamaah sekaligus mempermudah perjalanan mereka sejak keberangkatan hingga kembali ke negara asal.

Dilansir dari Saudigazette Jumat (30/01), kampanye “Jai lil Umrah” sejalan dengan agenda Visi 2030 yang menargetkan perjalanan religius lebih bermakna dengan dukungan layanan yang semakin baik.

Inisiatif ini juga menjadi bagian dari persiapan menyongsong lonjakan jamaah pada bulan suci Ramadan.

Pada awal musim umrah 1447 H, jumlah jamaah luar negeri disebut telah melampaui 11,8 juta orang. Angka ini mencerminkan tingginya antusiasme umat sekaligus tantangan besar dalam aspek pelayanan dan pengelolaan jamaah.

Edukasi Jamaah Disalurkan lewat Media Digital dan Tatap Muka

Selama Ramadan, kampanye ini akan terus berjalan dengan fokus meningkatkan pemahaman jamaah mengenai layanan, prosedur, serta perilaku positif dalam perjalanan iman mereka.

Pesan-pesan edukatif disebarkan melalui berbagai media digital maupun pertemuan tatap muka. Aktivitas ini membimbing jamaah sejak berangkat hingga kembali ke tanah air.

Selain itu, kampanye memaksimalkan kanal komunikasi resmi kementerian untuk membangun disiplin jamaah di Haramain dan sepanjang perjalanan.

Lebih dari 18 Titik Kontak Disiapkan di Berbagai Lokasi

Rangkaian kegiatan kampanye mencakup lebih dari 18 titik kontak di berbagai lokasi strategis, mulai dari pintu masuk, bandara, stasiun transportasi, kawasan Haramain, hotel, apartemen, destinasi, hingga situs sejarah.

Informasi disampaikan melalui layar digital, papan petunjuk jalan, hingga pesan singkat kepada jamaah.

Gerakan “Jai lil Umrah” melibatkan lebih dari 24 lembaga dari sektor pemerintah, swasta, dan nirlaba yang bergerak di bidang haji dan umrah.

Kolaborasi luas ini ditujukan agar pesan sosialisasi menjangkau khalayak seluas mungkin serta menciptakan sinergi antar pihak yang melayani tamu Allah.

Kampanye ini disebut lahir dari kepedulian kerajaan terhadap Haramain dan para peziarah. Langkah tersebut sejalan dengan Visi 2030 serta Program Pelayanan Tamu Allah yang bertujuan memudahkan kedatangan lebih banyak jamaah dan memperbaiki akses ke dua masjid suci.

Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan serta memperkaya pengalaman religius dan budaya jamaah.

SUMBER : HIMPUHNEWS

Kemenhaj Saudi Imbau Jemaah Umrah Patuhi Aturan Bagasi Selama Ramadhan 1447 H

Lonjakan jamaah umrah pada Ramadhan 1447 Hijriah mendorong otoritas Arab Saudi menegaskan kembali aturan perjalanan, khususnya soal bagasi. Sejak awal musim umrah, 11,8 juta jamaah dari luar negeri tercatat tiba di Saudi, sehingga kepatuhan terhadap ketentuan bagasi dinilai krusial untuk menjaga kelancaran arus jamaah.

Imbauan tersebut disampaikan oleh Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi. Dalam imbauan tersebut Kementerian meminta jamaah memperhatikan cara pengemasan barang bawaan sejak sebelum keberangkatan.

Larangan Mengikat Bagasi dan Tas Bertali Panjang

Dikutip media lokal Okaz.com.sa, Dalam ketentuan yang disampaikan, jamaah diminta mengemas barang dengan rapi dan tidak mengikat bagasi menggunakan tali. Penggunaan penampung berbahan kain juga disebut tidak diperbolehkan.

Selain itu, jamaah dilarang membawa tas bertali panjang serta bagasi yang melebihi batas berat yang ditetapkan maskapai. Aturan ini diterapkan untuk mencegah hambatan dalam pergerakan jamaah, terutama di bandara dan area layanan.

Imbauan Koordinasi dengan Maskapai

Kementerian menekankan bahwa kepatuhan terhadap aturan bagasi akan memperlancar perjalanan jamaah secara keseluruhan. Disiplin dalam pengemasan membantu petugas menghindari penumpukan barang serta menjaga kenyamanan jamaah lain.

Jamaah juga dianjurkan berkomunikasi dengan maskapai penerbangan sebelum keberangkatan guna memastikan batas berat dan dimensi bagasi yang diperbolehkan.

Manfaatkan Panduan Digital Umrah

Selain aturan bagasi, jamaah diimbau memanfaatkan panduan umrah digital melalui kode QR. Langkah ini ditujukan agar jamaah lebih siap dan dapat menghindari keterlambatan, khususnya saat proses check-in.

Petugas juga mengingatkan jamaah untuk mematuhi aturan keamanan penerbangan, termasuk larangan membawa benda tajam, cairan berlebihan, serta barang terlarang lain yang berpotensi mengganggu keselamatan.

Menata bagasi secara tertib dan mematuhi protokol yang berlaku dinilai berperan penting dalam kelancaran operasional bandara. Ketaatan jamaah memungkinkan petugas fokus pada pelayanan inti dan meminimalkan gangguan selama puncak kedatangan Ramadhan.

SUMBER : HIMPUHNEWS

Satgas Pastikan Layanan di Arafah Optimal Untuk Persiapan Wukuf

SUMBER : HIMPUHNEWS

Menjelang fase puncak ibadah haji, kesiapan layanan di kawasan Arafah menjadi krusial bagi jutaan jamaah, termasuk dari Indonesia. Pemerintah melalui Satuan Tugas Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) mulai memastikan seluruh aspek layanan berjalan optimal, mulai dari markas hingga sistem evakuasi.

Peninjauan lapangan dilakukan secara menyeluruh di Arafah pada Minggu (3/5/2026). Kegiatan ini dipimpin Kepala Satuan Operasional (Kasatops) Armuzna Surnadi bersama tim, dengan fokus pada kesiapan fasilitas dan sistem layanan bagi jamaah Indonesia menjelang wukuf.

Dalam peninjauan tersebut, tim menyisir berbagai titik penting, termasuk posisi markas, rute murur, serta skema evakuasi di 10 sektor Adhoc yang telah disiapkan.

“Fokus kami hari ini memastikan posisi-posisi atau kedudukan-kedudukan markas, rute murur, dan sistem evakuasi di 10 sektor Adhoc. Jangan sampai ada yang terlewat,” tegas Surnadi, dikutip dari laman resmi Kementerian Haji dan Umrah.

Hasil pengecekan menunjukkan masih ada beberapa titik markas yang perlu dikoordinasikan kembali dengan pihak syarikah agar penempatannya lebih optimal. Selain itu, kesiapan petugas murur dan jalur bus taraddudi untuk mobilisasi jamaah pada 9 Zulhijah juga menjadi perhatian utama.

586 Personel Disiagakan di 10 Sektor

Satgas Arafah mengerahkan total 586 personel untuk mendukung operasional di lapangan. Para petugas dijadwalkan mulai menempati pos masing-masing pada 7 Zulhijah pukul 15.30 Waktu Arab Saudi (WAS).

Setiap sektor Adhoc akan menjadi pusat layanan utama bagi jamaah, mencakup akomodasi, konsumsi, transportasi, hingga layanan kesehatan selama berada di Arafah.

Surnadi menegaskan bahwa peninjauan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan langkah penting untuk memastikan jamaah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.

“Ini bukan sekadar peninjauan, tapi ini keharusan kami dalam meyakinkan dan memastikan jemaah Indonesia dapat menempati tenda-tenda, sehingga jemaah dapat melaksanakan wukuf dengan aman, nyaman, dan khusyuk,” ungkapnya.

Peninjauan ini menjadi bagian dari rangkaian tahap perencanaan dan persiapan Satgas Armuzna yang dijadwalkan berlangsung hingga 30 Mei 2026.

Selanjutnya, Satgas akan melanjutkan persiapan melalui sosialisasi di sektor-sektor Makkah, apel gelar pasukan, serta rapat koordinasi akhir sebelum puncak haji dimulai.

SUMBER : HIMPUHNEWS

Panduan Ibadah Haji dari Awal sampai Akhir Beserta Doa yang Menyertainya

Kategori : BeritaKhazanah, Ditulis pada : 22 April 2026 | SUMBER:HIMPUHNEWS

Menjalankan ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan spiritual yang menuntut pemahaman mendalam terhadap setiap tahapan yang dijalani. Kesempurnaan haji sangat ditentukan oleh terpenuhinya rukun dan wajib haji—dua komponen utama yang menjadi fondasi sah atau tidaknya ibadah tersebut.

Berdasarkan tuntunan resmi yang diterbitkan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, rangkaian ibadah haji memiliki urutan yang harus dijalani secara tertib, lengkap dengan amalan dan doa di setiap tahapannya.

Rukun dan Wajib Haji, Fondasi Ibadah di Tanah Suci

Dalam manasik haji, rukun merupakan amalan yang tidak boleh ditinggalkan karena menentukan sahnya ibadah. Sementara wajib haji tetap harus dilaksanakan, namun jika terlewat dapat diganti dengan dam.

Rukun haji meliputi:

  1. Niat ihram
  2. Wukuf di Arafah
  3. Tawaf ifadah
  4. Sai
  5. Tahallul
  6. Tertib

Wajib haji antara lain:

  1. Ihram dari miqat
  2. Melontar jumrah

Sedangkan beberapa amalan seperti mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, dan tawaf wada masuk dalam kategori yang diperselisihkan hukumnya.

1. Ihram di Miqat

Kata ihram berasal dari kata يحرم – احراما أحرم yang berarti masuk dalam keharaman. Sedangkan menurut istilah, ihram berarti niat masuk (mengerjakan) ibadah haji atau umrah dengan mengharamkan hal-hal yang dilarang selama berihram.

Pada dasarnya, ihram ditandai dengan mengenakan pakaian ihram, baik laki-laki maupun perempuan. Untuk jemaah haji laki-laki memakai dua helai kain ihram. Satu kain disarungkan dan satu kain lagi diselendangkan di kedua bahu dengan menutup aurat.

Sementara itu, jemaah perempuan memakai pakaian yang menutup seluruh tubuh kecuali muka dan kedua tangan dari pergelangan hingga ujung jari, baik telapak tangan maupun punggung tangan.

Tempat melakukan ihram disebut miqat. Pada dasarnya, miqat terbagi menjadi dua jenis, yaitu miqat zamani dan miqat makani. Miqat zamani adalah batas waktu melaksanakan haji. Sementara miqat makani adalah batas tempat untuk memulai ihram.

Adapun sunnah-sunnah sebelum ihram antara lain:

– Mandi
– Memakai wangi-wangian pada tubuhnya
– Memotong kuku, merapikan jenggot, mencukur rambut ketiak dan rambut kemaluan.
– Memakai kain ihram
– Salat sunnah ihram 2 rakaat

Selain hal-hal yang disunnahkan, terdapat larang-larangan yang tidak boleh dilakukan oleh jemaah haji ketika telah berihram. Antara lain:

– Memakai wangi-wangian, kecuali sudah dipakai sebelum niat haji
– Memotong kuku dan mencukur, atau mencabut bulu rambut dan badan
– Memburu dan membunuh binatang, kecuali binatang yang membahayakan
– Memakan hasil buruan
– Memotong kayu-kayuan dan mencabut rumput
– Menikah, menikahkan, atau meminang perempuan
– Bersetubuh, bercumbu, mencium, merayu, dan hal-hal yang mendatangkan syahwat
– Mencaci dan bertengkar
– Melakukan kejahatan dan maksiat
– Memakai pakaian yang dicelup dengan pewangi

Setelah selesai melakukan ihram, jemaah haji dianjurkan untuk memperbanyak membaca kalimat talbiyah. Bacaan ini mulai dibaca setelah niat ihram dari miqat. Berikut bacaan talbiyah:


لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ

Labbaykallāhumma labbayk, labbayka lā syarīka laka labbayk, innal-ḥamda wan-ni’mata laka wal-mulk, lā syarīka lak.

Artinya: “Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kemuliaan dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”

2. Wukuf di Arafah

Secara bahasa wukuf berarti berhenti. Sedangkan menurut istilah, wukuf adalah berhenti atau berdiam diri di Arafah dalam keadaan ihram dalam waktu antara tergelincir matahari pada 9 Zulhijah hingga terbit fajar hari nahar 10 Zulhijah.

Ketika memasuki tanah Arafah, jemaah haji dianjurkan untuk membaca doa. Berikut bacaan doanya:

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ، وَبِكَ اعْتَصَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِمَّنْ تُبَاهِي بِهِ الْيَوْمَ مَلَائِكَتَكَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Allāhumma ilaika tawajjahtu, wa bika’taṣamtu, wa ‘alaika tawakkaltu. Allāhummaj’alnī mimman tubāhī bihil-yauma malā’ikataka innaka ‘alā kulli syai’in qadīr.

Artinya: “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku menghadap, hanya dengan-Mu aku berpegang teguh dan kepada-Mu aku berserah diri. Ya Allah, jadikanlah aku di antara orang yang hari ini Engkau banggakan di hadapan Malaikat-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Selain doa di atas, terdapat doa yang dapat jemaah haji panjatkan ketika melihat Jabal Rahmah. Berikut bacaan doanya:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ وَأَعْطِنِي سُؤْلِي وَوَجَّهُ لِيَ الْخَيْرَ أَيْنَمَا تَوَجَّهْتُ. سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Artinya: “Ya Allah, ampunilah aku, terimalah taubatku, penuhilah segala permintaanku dan hadapkanlah kebaikan kepadaku dimana-pun aku menghadapkan diri. Maha Suci Allah, segala puji hanya bagi Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Agung”

Wukuf di Arafah adalah rukun utama haji dan tidak dapat diganti dengan denda (dam). Selama wukuf, jemaah haji mengisi waktu dengan memperbanyak zikir, istighfar, sholawat, dan doa sesuai sunnah Rasulullah SAW.

Jemaah dapat melihat bacaan doa selengkapnya di sini.

3. Mabit di Muzdalifah

Mabit di Muzdalifah adalah bermalam atau beristirahat di Muzdalifah pada 10 Zulhijah setelah pelaksanaan wukuf di Arafah. Hukum mabit di Muzdalifah adalah wajib. Mabit dianggap sah jika jemaah haji berada di Muzdalifah melewati tengah malam, walau ia hanya mabit sesaat.

Muzdalifah termasuk tempat mustajab untuk berdoa, karenanya pada saat mabit di muzdalifah, jemaah haji dapat membaca talbiyah, zikir, istighfar, berdoa, atau membaca Al-Qur’an.

Berikut adalah bacaan doa ketika sampai di Muzdalifah:

اللَّهُمَّ إِنَّ هَذِهِ مُزْدَلِفَةُ جُمِعَتْ فِيْهَا أَلْسِنَةٌ مُخْتَلِفَةٌ تَسْأَلُكَ حَوَائِجَ مُؤتنفه فَاجْعَلْنِي مِمَّنْ دَعَاكَ فَاسْتَجَبْتَ لَهُ وَتَوَكَّلَ عَلَيْكَ فَكَفَيْتَهُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ . اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْأُخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya ini Muzdalifah telah berkumpul bermacam-macam bahasa yang memohon kepada-Mu keperluan yang beraneka ragam, maka masukkanlah aku ke dalam golongan orang yang memohon kepada-Mu, lalu Engkau penuhi permintaannya, yang berserah diri pada-Mu, lalu Engkau lindungi dia, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab neraka.””

4. Melontar Jumrah

Melontar jumrah adalah melontar batu kerikil ke arah jamrah sughra, wustha, dan kubra dengan niat mengenai objek jumrah (marma) dan kerikil masuk ke lubang marma. Melontar jumrah dilakukan pada hari nahar dan hari tasyrik.

Hukum melempar jumrah adalah wajib, bila seseorang tidak melakukannya, maka dikenakan denda (dam). Berikut tata cara melempar jumrah:

– Kerikil mengenai marma dan masuk ke lubang
– Melontar setiap jumrah dengan tujuh kerikil dan setiap kali lontaran satu kerikil
– Melontar jamarat dengan urutan yang benar, mulai jamrah sughra, wustha, dan kubra

Setelah melakukan tujuh kali lontaran kerikil pada setiap jamrah, jemaah haji dianjurkan untuk membaca doa berikut:

بِسْمِ اللهِ اللهُ أَكْبَرُ

Artinya: “Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar.”

Atau bisa juga membaca doa berikut:

اللهُ أَكْبَرُ عَلَى طَاعَةِ الرَّحْمَنِ، وَرَغَمِ الشَّيْطَانِ اللهم تَصْدِيقاً بِكِتَابِكَ وَاتَّبَاعاً لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَبًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا وَعَمَلاً مَشْكُورًا

Artinya: “Allah Maha Besar atas ketaatan kepada Allah Yang Maha Pengasih, dan kutukan bagi setan, ya Allah, dengan membenarkan kitab-kitab-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu. Jadikanlah ibadah haji ini haji yang mabrur, dosa-dosa terampuni, dan amalan yang diterima.”

5. Tahallul Awwal

Dalam rangkai ibadah haji, bercukur atau tahallul merupakan salah satu rukun haji, khususnya bagi mazhab Syafi’i. Tidak sempurna haji seseorang jika tidak mencukur rambut. Sedangkan menurut ketiga mazhab lainnya, tahallul wajib dan dikenakan denda jika tidak melakukannya.

Dalam rangkaian ibadah haji, lazimnya tahallul dilakukan pada 10 Zulhijah setelah jemaah melempar jumrah kubra. Inilah yang disebut sebagai tahallul awwal. Terdapat doa yang dapat jemaah baca ketika tahallul, berikut bacaannya:

الْحَمْدُ اللَّهِ عَلَى مَا هَدَانَا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى مَا أَنْعَمَنَا بِهِ عَلَيْنَا. اللَّهُمَّ هَذِهِ نَاصِيَتِي فَتَقَبَّلْ مِنِّي وَاغْفِرْ ذُنُوبِي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ وَلِلْمُقَصِّرِينَ. يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ. اللهُمَّ اثْبُتْ لِي بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةً وَامْحُ عَنِّي بِهَا سَيِّئَةً وَارْفَعْ لِي بِهَا عِنْدَكَ دَرَجَةً

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada kami dan segala puji bagi Allah atas segala yang telah Allah karuniakan kepada kami. Ya Allah, ini ubun-ubunku, terimalah amal ibadahku dan ampunilah dosa-dosaku. Ya Allah ampunilah dan sayangilah orang-orang yang mencukur dan memendekkan rambutnya, wahai Tuhan yang Maha Luas ampunan-Nya. Ya Allah tetapkanlah untukku setiap helai rambut kebajikan dan hapuskan untuk-ku setiap helai rambut keburukan dan tinggikan derajatku di sisi-Mu.”

Setelah selesai melakukan tahallul, jemaah dapat melanjutkannya dengan membaca doa berikut:

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي قَضَى عَنَّا نُسُؤْكَنَا اللَّهُمَّ زِدْنَا إِيْمَانًا وَيَقِيْنَا وَتَوْفِيقًا وَعَوْنًا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِأَبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَالْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelesaikan manasik kami, Ya Allah tambahkanlah kepada kami iman, keyakinan, bimbingan dan pertolongan dan ampunilah kami, kedua orang tua kami dan seluruh kaum muslimin.”

6. Tawaf Ifadah

Secara bahasa tawaf berarti mengelilingi. Sedangkan menurut istilah berarti mengelilingi Baitullah sebanyak tujuh kali putaran dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad lagi.

Tawaf ifadah termasuk dalam jenis tawaf rukun, sehingga jemaah haji wajib untuk melakukannya. Pada saat memulai tawaf, jemaah haji dianjurkan untuk membaca doa ma’tsur pada saat memulai tawaf setelah istilam sambil mengangkat tangan. Berikut bacaan doanya:

بسم الله والله أكبر، اللهم إيمانًا بِكَ وتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ، ووَفَاءَ بِعَهْدِكَ، واتَّبَاعًا لسُنَّةِ نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, dan Allah Maha Besar. Ya Allah, aku beribadah atas dasar iman kepada-Mu, membenarkan Kitab-Mu (Al-Qur’an), menepati janji kepada-Mu, dan karena mengikuti Sunnah Nabi-Mu, junjungan kami Muhammad SAW.”

Selain doa di atas, terdapat bacaan doa yang dapat jemaah haji baca di setiap putarannya. Selengkanya dapat dilihat di sini.

7. Sai

Secara bahasa sai berarti berjalan atau berusaha. Sedangkan menurut istilah, sai adalah berjalan dari Shafa ke Marwah, bolak-balik sebanyak tujuh kali yang dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah, dengan syarat dan cara-cara tertentu.

Sai termasuk rukun haji yang harus dilakukan. Pada saat melakukan sai, terdapat rangkaian doa yang dapat jemaah haji amalkan, salah satunya adalah doa ketika hendak mendaki Bukit Shafa sebelum memulai sai. Berikut bacaan doanya:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ وَرَسُوْلُهُ إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ، فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِاعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا، وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ. أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ وَرَسُوْلُهُ.

Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui. Aku memulai sai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya memulai.”

8. Tahallul Kedua (Tsani)

Tahallul tsani adalah keadaan ketika seorang jemaah telah melakukan tiga kegiatan haji, yaitu melontar jumrah aqabah (kubra), memotong dan mencukur rambut, tawaf ifadah, serta sai. Setelah tahallul tsani, jemaah telah terbebas dari semua larangan ihram, termasuk larangan untuk bersetubuh dengan pasangannya.

9. Mabit di Mina

Mabit di Mina adalah bermalam pada malam hari di tanggal 11 hingga 12 Zulhijah bagi nafar awal dan bermalam pada malam hari di tanggal 11 hingga 13 Zulhijah bagi nafar tsani. Hukum mabit di mina adalah wajib.

Sesampainya di Mina, para jemaah dianjurkan untuk membaca doa, berikut bacaan doanya:

اللَّهُمَّ هَذِهِ مِنَى فَامْنُنْ عَلَيَّ بِمَا مَنَنْتَ بِهِ عَلَى أَوْلِيَائِكَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ

Artinya: “Ya Allah, tempat ini adalah Mina, anugerahilah aku apa yang Engkau telah anugerahkan kepada orang-orang yang dekat dan taat kepada-Mu.”

Selain bacaan doa di atas, jemaah haji juga dapat memperbanyak bacaan takbir, berikut lafadznya:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan semua pujian bagi Allah Yang Maha Besar, Maha Suci Allah pada waktu siang dan malam. Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Satu, tiada sekutu bagi-Nya dengan memurnikan ibadah semata kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir benci. Tiada Tuhan selain Allah dengan keesaan-Nya, Tuhan yang menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan sendiri musuh-musuhnya-Nya, tiada Tuhan kecuali Allah dan Allah Maha Besar.”

10. Tawaf Wada

Tawaf wada merupakan pernghormatan terakhir kepada Baitullah sebelum meninggalkan Makkah. Pada saat melakukan tawaf wada, jemaah haji dianjurkan untuk membaca doa berikut di setiap putarannya:

بِسْمِ اللهِ اللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إلا الله وَاللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ وَالصَّلاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ إِيْمَانًا بِكَ وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ وَاتَّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ۚ إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ. يَا مُعِيْدُ أَعِدْنِي يَا سَمِيْعُ أَسْمِعْنِي يَا جَبَّارُ اجْبُرْنِي يَا سَتَارُ اسْتُرْنِي يَا رَحْمَنُ ارْحَمْنِي يَا رَدَّادُ ارْدُدْنِي إِلَى بَيْتِكَ هُذَا وَارْزُقْنِيَ العَوْدَ ثُمَّ العَوْدَ كَرَاتٍ بَعْدَ مَرَّاتٍ تَائِبُونَ عَابِدُونَ سَائِحُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ. صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ اللَّهُمَّ احْفَظْنِي عَنْ يَمِينِي وَعَنْ يَسَارِي وَمِنْ قُدَّامِي وَمِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي وَمِنْ فَوْقِي وَمِنْ تَحْتِي حَتَّى تُوَصِّلَنِي إِلَى أَهْلِي وَبَلَدِي اللَّهُمَّ هَوَنْ عَلَيْنَا السَّفَرَ وَأَطْوِ لَنَا الأَرْضَ، اللهم أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ اللَّهُمَّ أَصْحِبْنَا فِي سَفَرِنَا فَاخْلُفْنَا فِي أَهْلِنَا ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَيَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Artinya: “Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, Maha Suci Allah dan segala puji hanya kepada Allah, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Besar, tiada daya (untuk meraih manfaat) dan tiada kekuatan (untuk menolak bahaya), kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Sholawat dan salam bagi junjungan Rasulullah SAW. Ya Allah, aku datang kemari karena iman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, memenuhi janji-Mu dan karena mengikuti sunnah Nabi-Mu Muhammad SAW. Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan Engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali. Wahai Tuhan Yang Maha Kuasa mengembalikan, kembalikan aku ke tempatku. Wahai Tuhan Yang Maha Mendengar, kabulkanlah permohonanku. Wahai Tuhan Yang Maha Memperbaiki, perbaikilah aku. Wahai Tuhan Yang Maha Pelindung, tutuplah aibku. Wahai Tuhan Yang Maha Kasih Sayang, sayangilah aku. Wahai Tuhan Yang Kuasa Mengembalikan, Maha kembalikan aku ke Ka’bah ini dan berilah aku rezeki untuk kembali lagi berkali-kali dalam keadaan bertaubat, beribadah, dan berpuasa sambil memuji. Maha benar Allah dengan janji-Nya, menolong hamba-Nya, yang menghancurkan sendiri musuh-musuh-Nya. Ya Allah, peliharalah aku dari sisi kanan dan kiri, depan dan belakang, dari sebelah atas dan bawah sampai Engkau mengembalikan aku kepada keluarga dan tanah airku. Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami, lipatlah bumi untuk kami. Ya Allah, Engkau Pengiring perjalanan dan Pengganti dalam keluarga. YaAllah, sertailah perjalanan kami dan gantilah kedudukan kami dalam keluarga yang ditinggal, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih melebihi segala pengasih, wahai Tuhan Yang Memelihara seluruh alam.”

Jelang Haji 2026, Arab Saudi Resmikan Fasilitas Baru Super Modern Untuk Jemaah di Mina

jelang pelaksanaan ibadah haji 2026, kawasan Mina terus berbenah untuk mengatasi kepadatan jemaah yang selama ini menjadi tantangan utama. Salah satu langkah signifikan dilakukan melalui peresmian proyek infrastruktur besar yang digadang-gadang mampu meningkatkan kapasitas dan kenyamanan jemaah secara signifikan.

Menteri Haji dan Umrah meresmikan proyek Rabigh Qadeena Project yang dikembangkan oleh Qadeena Company. Proyek ini menjadi salah satu tambahan infrastruktur terbesar di kawasan suci menjelang musim haji mendatang.

Proyek yang berdiri di atas lahan seluas lebih dari 33.000 meter persegi ini terdiri dari 62 bangunan modern yang dirancang untuk menampung lebih dari 15.000 jemaah haji.

Tak hanya itu, kompleks yang terdiri dari 10 menara ini bahkan memiliki kapasitas total hingga sekitar 30.000 jemaah. Kehadiran fasilitas ini dinilai akan sangat membantu mengurangi kepadatan di Mina, khususnya di area sekitar Jamarat yang dikenal sebagai salah satu titik paling padat selama puncak ibadah haji.

Fasilitas Lengkap dalam Satu Kawasan

Setiap bangunan di dalam kompleks dilengkapi berbagai fasilitas penunjang kebutuhan jemaah, mulai dari tempat ibadah hingga layanan kesehatan.

Fasilitas tersebut meliputi:

  • ruang salat
  • ruang makan
  • klinik medis
  • dapur modern
  • area istirahat luar ruangan
  • sistem pengelolaan limbah

Seluruh fasilitas dirancang agar dapat dijangkau dengan berjalan kaki, sehingga memudahkan mobilitas jemaah selama berada di Mina.

Aspek keselamatan menjadi perhatian utama dalam pembangunan proyek ini. Pengelola menghadirkan jalur terpisah antara pejalan kaki dan bus guna meminimalkan risiko percampuran arus.

Selain itu, teknologi pemantauan pergerakan massa juga diterapkan melalui ruang kontrol khusus yang memungkinkan pengawasan secara real-time. Sistem ini diharapkan mampu mengurangi potensi penumpukan jemaah saat menuju maupun meninggalkan area Jamarat.

Didukung Infrastruktur Listrik dan Pendingin

Untuk mendukung operasional selama musim haji, proyek ini dilengkapi 20 stasiun listrik dengan kapasitas gabungan lebih dari 30 MW. Sistem pengendali suhu juga dipasang di seluruh area kompleks.

Keberadaan infrastruktur ini menjadi krusial mengingat suhu di Mina yang ekstrem, serta tingginya jumlah jemaah yang beraktivitas secara bersamaan dalam satu waktu.

Pembangunan Rabigh Qadeena merupakan bagian dari transformasi jangka panjang kawasan Mina. Selama ini dikenal dengan sistem tenda, Mina kini mulai beralih ke kombinasi fasilitas permanen seperti gedung bertingkat.

Perubahan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah, mulai dari kebersihan, kenyamanan, hingga pengelolaan arus pergerakan.

Bagi jemaah, dampaknya cukup terasa, seperti jarak tempuh yang lebih pendek, fasilitas yang lebih bersih, layanan kesehatan di lokasi, serta pengalaman ibadah yang lebih tertata di tengah padatnya aktivitas haji.

SUMBER : HIMPUHNEWS